Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori Belajar Barat dan Indonesia


Bagi seorang guru, memahami tentang teori belajar ialah kewajiban.

Selain untuk memudahkan dalam mengajarkan para murid, teori belajar juga berguna bagi dirinya agar dapat terus belajar.

Guru yang baik tak hanya mengajarkan muridnya, tapi dirinya juga ikut belajar.

Teori Belajar

Bagi yang sudah mengetahui tentang teori belajar, ada 3 teori yang familiar di telinga kita yakni teori belajar behaviorisme, teori belajar kognitivisme, dan teori belajar konstruktivisme.

Ketiga teori tersebut banyak diungkapkan oleh para pakar dari luar, seperti Thorndike, Pavlov, Skiner, Piaget, Bruner, Ausubel, Vygotsky, dan lainnya.

Selain dari pada itu, Indonesia sendiri memiliki pakar pendidikan yang punya semboyan fenomenal. Siapakah dia? Ki Hadjar Dewantara.

Apa semboyan tersebut?

ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani

Mungkin semboyan di atas akan kita jadikan teori asal negeri sendiri, ya.

Mari kita bahas bersama.

a. Teori Behaviorisme

Teori behavior ini mengacu pada tingkah laku, kebiasaan seseorang. Adanya stimulus dan respon. Hasil belajar akan nampak pada perubahan tingkah laku.

Pentingnya penguatan dalam proses belajar, secara sederhananya jika kita ingin bisa dalam sebuah pelajaran atau keahlian, maka sering-seringlah belajar dan melakukannya.

Lakukan 1x, 2x, 3x, dan seterusnya. Sampai pada perasaan, "Kalau saya tidak melakukan/ mempelajarinya akan ada yang kurang, deh."

Intinya, pengulangan. Tentu dengan adanya stimulus yang diberikan

Jadi, seseorang bisa dibilang belajar ketika terjadi respon dari stimulus yang diberikan.

Bukan begitu?

Lalu, jika ada orang yang tidak berubah-ubah setelah belajar itu namanya, ndableg.

b. Teori Kognitivisme

Teori kognitif ini mengacu pada proses berpikir yang terdapat dalam setiap kepala manusia. Tentu  untuk mendapatkan informasi pengetahuan memiliki proses, memiliki tingkatan.

Seperti ada seorang penulis, mustahil dia ujug-ujug jadi penulis hebat. Tentu ada proses agar dia dapat membuat tulisan fenomenal di era milenial dengan membaca banyak hal.

Jadi tidak serta merta bisa, seorang guru harus memahami murid kalau anak didiknya tidak seperti orang dewasa yang mudah dalam berpikir.

Begitu.

c. Teori Konstruktivisme

Teori konstruksi itu pengetahuan ibarat bangunan, mesti dibangun. Kalau tidak ada kontraktor dan arsitek yang bekerja, maka tidak dapat jadi bangunan tersebut.

Sang pembelajar, murid disini harus aktif dalam menemukan dan menguasai pengetahuan.

Meski ada guru yang luar biasa cerdas pengetahuan dan piawai mengajar, kalau tidak ada kemauan dan keaktifan murid, yaaa bisa dikatakan belajar gak ya itu murid?

Guru bisa mengupayakan dengan menggunakan model pembelajaran, misalnya Problem Based Learning.

d. ing ngarsa sung tuladha

Di depan memberi contoh. Siapa ya kalau di ruang kelas yang sering di depan? Bukan murid yang suka disetrap maksudnya, ini guru.

Mungkinkah guru yang ingin anak didiknya berakhlak mulia tanpa dirinya juga berakhlak baik?

Itu dia, walau guru juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan pisau belati. Loh.

Tetap, sabar.

Dan, jangan pernah bosan jadi baik.

Bisa jadi bila kita berlaku tidak baik maka akan ditiru orang lain, tapi orang lain merasa itu biasa saja.

Mau dilihat atau tidak dilihat orang lain, tetap jadilah baik ya, Gal (talk to myself).

e. ing madya mangun karsa

Di tengah memberi semangat. Walau bukan suporter sepak bola, guru bisa memberi semangat saat belajar. Gimana? Pakai tepuk semangat, ya?

Tepuk semangat!
Se... se... se... se... seeeeemangatttt...

Cemungudddhhh eaaa...

Ih, kok sedikit geli ya.

Memberi semangat, bukan mencaci atau memaksa murid melakukan tugasnya.

Saat melemparkan tugas ke murid, cobalah menghampiri mereka, sedikit bercanda boleh.

Agar belajarnya, semakin semangat.

Juga dimaksud sesama murid, saling semangat menyemangati.

f. tut wuri handayani

Di belakang memberi dorongan. Wussss, ayoloh jatoh.

Bukan.

Bukan kita di belakang terus dorong-dorong murid, nanti kejedut benjol.

Peran orangtua ini yang dimaksud, mendorong murid as like as anaknya, loh.

Dari segi perhatian dan pengertian.

Mengerti dengan keperluan penunjang untuk belajar.

g. Teori Belajar Guru Galih

Kadang belajar itu tidak enak, tapi bodoh lebih tidak enak.

Pengalaman belajar memang penuh tantangan, pasti ada tidak enaknya. Namun, ingatlah belajar untuk mencari keridhaan Allah.

Jangan sampai kita bodoh. Walau halangan rintangan semakin panjang membentang tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran.

Cukup.

Sekian.

Ingat untuk tinggalkan komentar.

Terima kasih.
Galih Setio Utomo
Galih Setio Utomo Guru. Blogger.

6 komentar untuk "Teori Belajar Barat dan Indonesia"

  1. Wkwkw ngakak saya bacanya. Tapi alhamdulillah dapet ilmu baru yeyey:v


    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Dikit aja ketawanya jangan banyak-banyak.

      Hapus
  2. πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ

    BalasHapus
  3. Bagus pak materinya. Saya suka
    🀩😁❤️πŸ”₯✨πŸ’ͺπŸΌπŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌ

    BalasHapus

Mari bergabung dengan 46.355+ pembaca blog ini