Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pendidikan Dasar : Antara Prestasi dan Akhlak



Tidak mudah bagi seseorang untuk menjadi yang terbaik dalam dua hal.

Perkenalkan, nama saya Galih dan seorang Guru.


- - -

Berprofesi menjadi guru mungkin di zaman sekarang diidam-idamkan.

Bagaimana tidak?

Gaji guru PNS, wussss tingginya selangit. Apalagi nanti dijamin negara setelah pensiun.

Siapa, sih, yang gak mau hidupnya enak dan dijamin nikmat.

Tentu, kamu salah bila beranggapan menjadi guru enak dan nikmat.

Iya, sekarang-sekarang saja baru diperhatikan.

Zaman dulu (mungkin hingga kini), gaji guru kecil, bahkan tidak hanya 1 sekolah ia mengajar. Dua, bahkan tiga atau empat sekolah.

Selain itu juga ada yang sampingan mengajar les, buka bimbel, atau jualan jajanan.

Bukan semata mengejar rupiah.

Karena untuk menyambung hidup dunia dan akhirat.

Butuh proses yang panjaaaang untuk menjadi guru bermutu di zaman sekarang.

- - -

Sedikit kisah, saya pernah mengajar ekskul Pramuka, selesai mengajar hanya diberikan teh manis hangat dan senyuman dari para guru setempat.

Ada juga kisah guru senior yang pernah digaji cuma Rp 18.000 atau Rp 20.000 dalam sebulan.

Fantastis bukan.

Kalau hanya karena rupiah, mungkin banyak yang kalah dan menyerah.

Bagi saya, menjadi guru itu seru.

Apalagi di zaman sekarang, kalau enggak seru ya saya ga jadi guru.

- - -

Saya bagikan sedikit aktivitas menjadi guru, khususnya guru SD yang memegang kelas.

Tak hanya mesti jago matematika, IPA, IPS, Seni Budaya, PPKn, rangkap jadi guru BK juga, kini dirangkum jadi pembelajaran tematik.

Setiap mau mulai sekolah bikin Program Tahunan, Program Semester, hingga yang paling hits yaitu RPP tiap harinya.

Setelah mengajar lalu melakukan evaluasi murid, baik itu koreksi nilainya, cek perkembangan belajarnya, mencari masalah pembelajarannya, hingga lupa makan siang.

Bukan gak ada uang.

Sudah banyak kerjaan gitu jadi lupa (alasannya mungkin biar hemat).

Selain itu kadang sebagai guru milenial yang cukup mengerti IT, ya, bantu guru lainnya yang senior kalau ada ketikan, kadang juga ada tugas dadakan seperti mengumpulkan administrasi, atau dikirim pelatihan dan ditugaskan dampingi murid lomba.

Tidak cuma dampingi, sebelumnya melatihnya juga biar bisa memberikan hasil yang terbaik.

Setelah semua dilakukan, seorang guru harus tampil prima saat jam pelajaran.

Membawa para murid belajar dengan keseruan dan keunikan khas setiap guru.

Gitu.

Harus bisa tersenyum saat belajar mengajar, harus bisa sabar menghadapi tingkah para murid di kelas.

Lantas di sekolah ada saja yang membuat guru kesal, marah, ya itu tuh karena muridnya gak bisa diatur, dibilangi, atau ga ngerti-ngerti udah diajari berulang kali.

Sebenarnya salah gak murid berulah, bolehkah guru marah?

- - -

Antara prestasi dan akhlak, mana yang kamu pilih?

Nilai bagus atau perilaku baik?

Kamu mau keduanya?

Jika dipilih salah satunya?

- - -
Tidak mudah bagi seseorang untuk menjadi yang terbaik dalam dua hal.

Sebagai seorang pendidik, kami dituntut mencerdaskan kehidupan bangsa dan membuat generasi yang berakhlak mulia.

Untuk itu, saya pribadi menerapkan dalam diri sebuah pertanyaan.

"Bagaimana mau mencetak generasi yang berakhlak kalau pendidiknya tidak berakhlak?"

"Bagaimana mau murid pada cerdas berprestasi kalau pendidiknya malas belajar?"

Mungkin suatu saat nanti artikel ini akan berlanjut.
Galih Setio Utomo
Galih Setio Utomo Guru. Blogger.

6 komentar untuk "Pendidikan Dasar : Antara Prestasi dan Akhlak"

Mari bergabung dengan 46.355+ pembaca blog ini