Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kualitas Anak Didik Nomor Satu




Di Indonesia jumlah maksimal satu kelas ialah 32 anak didik.

Tak heran juga bisa melebihi jumlah tersebut karena kendala-kendala yang ada, baik itu ruang kelas yang kurang atau anak didiknya yang berlebih.

Sedikit atau banyaknya jumlah anak didik di kelas, begini Cara Menjadi Guru, harus menetapkan prinsip berikut.

KUALITAS ANAK DIDIK NOMOR SATU.

Tanamkan akidah yang benar dan mantapkan kualitas iman anak didik.

Sebelum memasuki pembelajaran baik itu materi alam, sosial, matematika, seni, bahasa, kewarganegaraan, dan lain-lain, bawakanlah kabar dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam dengan merenungi firman Allah Subhanahu wata’ala.

Aduhai hebatnya guru yang mampu mengkorelasikan kekuasaan Allah dengan fenomena-fenomena yang akan dipelajarinya di ruang kelas.

Kuatnya akidah dan kokohnya iman anak didik akan membawa dampak baik yang luar biasa dalam kehidupan.

Untuk mengetahui banyak hal harus dekat dengan Yang Maha Mengetahui, yakni Allah.


Sumber Bacaan:
·       Fu’ad. 2018. Begini Seharusnya Menjadi Guru. Jakarta : Darul Haq.

Galih Setio Utomo, S.Pd
Galih Setio Utomo, S.Pd Muslim | Father | Teacher |

10 komentar untuk "Kualitas Anak Didik Nomor Satu"

  1. Sukaaaa artikelnya mantapπŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  2. Mantap πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  3. Inj yg terpenting Mas Tanamkan akidah yang benar dan mantapkan kualitas iman anak didik.


    Krn kalau hanya ilmu hasilnya kadang sering kebablasan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih pak Abdul Majid, fenomena banyak orang pintar tak berakhlak sudah marak. mari kita selamatkan generasi emas milenial Indonesia. :)

      Hapus
  4. SUBHAANALLOH... Bimbing selalu kami dengan istiqomah, dan semoga Alloh selalu membuka pintu pintu keberkah an untuk kita semua Aamiin πŸ™

    BalasHapus
  5. Sedikit berpendapat mas galih, barangkali kunci utama kualitas anak didik ditentukan seberapa ikhlas guru dalam menjalankan proses belajar mengajar serta mengenal anak seutuhnya, sehingga tidak lagi ada pemosisian anak didik sebagai objek, dianggap sebagai tong kosong yang kemudian perlu dijejali informasi-informasi yang belum tentu bermanfaat bagi anak didik.

    dan yang tidak kalah penting adalah peran guru yang harus lihai menggali keberagaman potensi anak didik yang kemudian harus ditumbuhkan dan dikembangkan. salam kangizzaπŸ˜€πŸ˜€πŸ™πŸ™πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih pendapatnya kang Izza, hebat betul......

      Hapus

Berlangganan via Email